You can replace this text by going to "Layout" and then "Edit HTML" section. A welcome message will look lovely here.
RSS

Selasa, 09 Oktober 2012

Karakterisasi Simplisia

Karakterisasi simplisia penting looh dilakuin, biar kita tau simplisia yang kita gunakan layak atau ngga untuk digunakan.Untuk yang lagi nyusun tugas akhir jangan sampe karakterisasinya di lewat yaa.. di buku pasti ada, semoga ini membantu yaa..

1.    Penetapan Kadar Abu
± 2 g sampai 3 g zat yang telah digerus dan ditimbang seksama, masukkan ke dalam krus platina atau krus silikat yang telah dipijarkan dan ditara, ratakan. Pijarkan perlahan-lahan hingga arang habis, dinginkan, timbang. Hitung kadar abu terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995 b).

2.    Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Dalam Asam
Abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu, didihkan dengan 25 mL HCl encer P selama 5 menit, kumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam, saring melalui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas, pijarkan hingga bobot tetap, timbang. Hitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995 b).

3.    Penetapan Kadar Abu Tidak  Larut Dalam Air
Abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu, didihkan dengan 25 mL air selama 5 menit, kumpulkan bagian yang tidak larut, saring melalui kurs kaca masir atau kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas dan pijarkan selama 15 menit pada suhu tidak lebih dari 450 hingga bobot tetap, timbang. Perbedaan bobot sesuai dengan jumlah abu yang larut dalam air. Hitung kadar abu yang larut air terhadap bahan yang dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995 b) .

4.    Penetapan Susut Pengeringan
Timbang seksama 1 – 2 g zat dalam botol timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan selama 30 menit yang telah ditara. Ratakan zat dalam botol timbang dengan menggoyangkan botol, hingga merupakan lapisan setebal ± 5 mm – 10 mm, masukkan ke dalam ruang pengering, buka tutupnya, keringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap. Sebelum setiap penimbangan, biarkan botol dalam keadaan tertutup mendingin dalam eksikator hingga suhu kamar (Depkes RI, 1995 b).

5.    Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air
Keringkan serbuk (4/18) di udara, maserasi selama 24 jam 5,0 g serbuk dengan 100 mL air kloroform P, menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Saring, uapkan 20 mL filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, panaskan sisa pada suhu 1050C hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam air, dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995 b).

6.    Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol
Keringkan serbuk (4/18) di udara, maserasi selama 24 jam 5,0 g serbuk dengan 100 mL etanol (95%), menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Saring cepat dengan menghindarkan penguapan etanol (95%), uapkan 20 mL filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, panaskan sisa pada suhu 1050C hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol (95%), dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995 b).

7.    Penetapan Kadar Air 
   Sejumlah 5 g serbuk dimasukkan kedalam labu bersih dan 200 mL toluen yang telah dicampur dengan air dimasukkan melalui kondensor. Lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Kecepatan penyulingan diatur 2 tetes setiap detik. Setelah semua tersuling bagian dalam pendingin dibilas dengan toluene, destilasi dilanjutkan selama 5 menit, volume air diamati setelah toluen dan air memisah sempurna. Kadar air dihitung terhadap bobot serbuk kering (Ditjen POM, 2000).

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar